1970s
1. Ask Mom about the recipe.
2. Write down the recipe.
3. Buy the ingredients.
4. Follow the instruction in the recipe.
5. Done.
2010s
1. Connect to the Internet.
2. Type "How to make hashbrown" in the web browser.
3. Enter.
4. Click the link.
5. Print the recipe.
6. Buy the ingredients.
7. Follow the instruction in the recipe.
8. Done.
See any differences ?
Jumat, 19 Juli 2013
Jumat, 21 Juni 2013
Mengubah Blog Menjadi Diari Pribadi
Blog sebagai sarana tulis-menulis dan publikasi tulisan di ranah maya digunakan untuk berbagai macam tujuan. Ada blog yang dijadikan sebagai sarana untuk belajar menulis. Ada yang dijadikan sebagai sarana pemasaran produk. Ada yang dijadikan sebagai sarana penyebaran informasi. Dan dari sekian banyak blogger ada juga orang yang menjadikan blog sebagai tempat untuk menulis catatan harian atau diari.
Tentu saja menulis diari yang bersifat pribadi di Internet yang notabene bisa diakses siapa saja amat riskan. Apalagi jika yang ditulis di situ berhubungan dengan hal-hal yang pribadi. Tentu saja hal-hal pribadi tersebut berpotensi mendatangkan kerugian kalau sampai bocor ke orang yang salah.
Lalu bagaimana cara mengurangi resiko tersebut ?
Caranya sebenarnya sederhana. Yang perlu kita lakukan hanyalah kebalikan dari apa yang biasanya orang lain lakukan. Ya, kalau orang lain ingin agar blog-nya dilihat oleh banyak orang maka kita akan membuat blog kita dilihat oleh semakin sedikit orang.
Salah satu caranya saya tuliskan di bawah ini. Cara yang saya tuliskan ini khusus untuk Blogger.
Lalu bagaimana cara mengurangi resiko tersebut ?
Caranya sebenarnya sederhana. Yang perlu kita lakukan hanyalah kebalikan dari apa yang biasanya orang lain lakukan. Ya, kalau orang lain ingin agar blog-nya dilihat oleh banyak orang maka kita akan membuat blog kita dilihat oleh semakin sedikit orang.
Salah satu caranya saya tuliskan di bawah ini. Cara yang saya tuliskan ini khusus untuk Blogger.
Minggu, 02 Juni 2013
Man Saara Ala Darbi Washala
Kalau kalian nge-fans pada karya-karya Ahmad Fuadi seperti Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna mungkin memerhatikan bahwa masing-masing novel tersebut membawa suatu kata mutiara. Novel Negeri Lima Menara mengandung kalimat Man Jadda Wajada (siapa bersungguh-sungguh akan berhasil) dan novel Ranah Tiga Warna mengandung kalimat Man Shabara Zhafira (siapa bersabar dia beruntung). Dalam perjalanan hidupnya, tokoh Alif menggunakan kedua kalimat tersebut sebagai salah satu prinsip hidupnya.
Baru-baru ini Ahmad Fuadi menerbitkan novel terakhir dari trilogi ini. Novel ini berjudul Rantau Satu Muara. Seperti kedua novel sebelumnya, novel ini juga membawa kalimat mutiara. Kali ini kalimat mutiara tersebut adalah Man Saara Ala Darbi Washala.
Postingan ini tidak akan membahas novel Ahmad Fuadi yang terakhir tersebut. Yang akan disoroti pada postingan ini adalah kalimat mutiara yang terkandung dalam novel tersebut.
Baru-baru ini Ahmad Fuadi menerbitkan novel terakhir dari trilogi ini. Novel ini berjudul Rantau Satu Muara. Seperti kedua novel sebelumnya, novel ini juga membawa kalimat mutiara. Kali ini kalimat mutiara tersebut adalah Man Saara Ala Darbi Washala.
Postingan ini tidak akan membahas novel Ahmad Fuadi yang terakhir tersebut. Yang akan disoroti pada postingan ini adalah kalimat mutiara yang terkandung dalam novel tersebut.
Minggu, 26 Mei 2013
Budaya Unik Indonesia : Pars Pro To To
Para perantau yang merantau ke tempat lain di Indonesia mungkin pernah mengalami percakapan seperti ini :
A : "Mas dari mana asalnya ?"
B : "O, kalau saya dari Medan Mas."
A : "Oh Medan toh. Medannya di mana ya ? Di deket Danau Toba ?"
B : ....
Senin, 13 Mei 2013
Deadline versus Progress
Menjadi seorang pelajar/mahasiswa pasti akan dihadapkan pada tugas. Dari disuruh ngerjain soal yang rada sederhana sampai ngerjain tubes (tugas besar) yang rumit. Idealnya pengerjaan tugas itu tidak ditunda-tunda. Dengan kata lain pengerjaan tugas sebaiknya dicicil tidak main SKS (sistem kebut semalam). Kalau diplot grafik kemajuan vs waktunya kira-kira seperti ini.
![]() |
Tapi... Seringkali yang terjadi tidak seperti itu. Yang terjadi malah begini...
Hmmm... Pernah mengalami ?
Sabtu, 04 Mei 2013
Pembelotan Bidang Keahlian
Kadang-kadang kita lihat seseorang bekerja di bidang yang bukan keahliannya. Insinyur teknik sipil bekerja jadi bankir di suatu bank terkemuka. Sarjana fisika melanjutkan S2 di jurusan manajemen. Bahkan pernah terjadi juga, insinyur penerbangan PTDI adalah lulusan teknik sipil.
Fenomena-fenomena di atas tentu sebuah anomali. Ya sewajarnya bukankah seseorang seharusnya tetap berkecimpung di bidang yang menjadi fokusnya. Insinyur teknik sipil, misalnya, idealnya mengambil S2 di bidang teknik sipil. Setelah lulus dari jenjang pendidikannya, idealnya dia bekerja sebagai kontraktor atau paling banter sebagai konsultan di bidang infrastruktur. Tapi terkadang kita melihat bahwa orang-orang seperti itu menjalani karir di bidang yang bukan fokusnya semasa kuliah. Artinya orang tersebut melenceng dari bidangnya atau istilah kasarnya membelot dari bidangnya.
Selasa, 30 April 2013
Dua Kendala Lain Dalam Menulis
"Menulis itu mengubah dunia". Itu kata Pak Rinaldi Munir dalam komennya di sebuah posting blog. Kalimat itu memang amat bermakna dan kalau kita lihat buktinya di dunia memang sangat banyak. Ibnu Sina, misalnya, namanya masyhur karena kitabnya mengenai kesehatan. Ibn Al-Baytar, seorang ilmuwan Muslim, namanya tercatat oleh sejarah karena karyanya di bidang farmasi (karyanya tersebut merupakan ensiklopedia farmasi berisi 1.400 jenis tanaman, makanan-makanan, dan obat-obatan). Newton terkenal lewat Principia-nya. Anne Frank mendunia namanya karena rutin menulis di buku hariannya (dan karena isinya diterbitkan).
Nah, kalau buktinya sudah banyak kenapa tidak menulis ?
Banyak sekali alasannya yang pasti. Yang sibuklah, tidak punya saranalah, gak ada idelah, dll. Sampai-sampai ada alasan yang agak lucu :
Walah-walah ini alasan udah fatal banget. Jadi kamu waktu TK ngapain ?* (hehehe... peace)."Gak bisa nulis"
Ada juga alasan yang rada-rada keren :
"Kena writer's block"
Yah apapun alasannya memang menulis itu gak gampang. Ini maksudnya nulis yang berkualitas ya. Kalau nulis status-status alay di fb sama twitter mah saya juga bisa. Kendalanya ya salah satunya yang di atas itu banyak alasan-alasan yang timbul (atau dibuat-buat ?) penyebab gak jadi nulis atau tulisan mandek. Cuma di sini saya gak bakal bahas kendala-kendala tadi. Di sini saya akan bahas kendala yang saya temukan sendiri.
Jadi menulis itu susah karena :
1. Menulis itu besar akibatnya
Kalau yang ini udah pasti. Hasil tulisan kita bisa menimbulkan dampak yang besar terutama kalau dipublikasikan. Sayangnya, dampak tersebut juga bisa negatif. Misalnya, kamu nulis artikel ilmiah di blog. Nah, kalau kamu gak hati-hati bisa saja kamu menyesatkan banyak orang yang baca blog kamu. Kasus lain itu waktu nulis soal budaya. Salah-salah kata bisa-bisa kamu dicap rasis. Kedua contoh tersebut berlaku juga untuk tulisan-tulisan non-blog seperti status media sosial.
2. Kamu lakukan gak hal yang kamu tulis ?
Ini berlaku buat tulisan yang bertema motivasi. Termasuk motivasi di sini juga motivasi yang berhubungan dengan agama. Tulisan dengan kedua tema tersebut tentu sarat akan anjuran dan ajakan. Kalau dalam Islam tentu saja ajakannya pasti untuk melakukan apa yang disukai Allah dan meninggalkan apa yang tidak di sukai Allah atau amar ma'ruf nahi munkar. Tentu saja maksud dari tulisan tersebut baik, namun dari tulisan tersebut timbul satu pertanyaan. Apakah kamu benar-benar melakukan yang kamu tulis atau kamu hanya menulis hal tersebut ? Contoh dari hal ini, misalnya, ada orang yang menulis ajakan untuk sholat di awal waktu. Nah, di sini pertanyaannya kembali ke orang tersebut : Apakah kamu sudah sholat di awal waktu sesuai dengan ajakan yang kamu tulis atau belum ?
Kendala yang pertama biasanya ditemui kalau nulis artikel berita atau artikel ilmiah. Untuk artikel non-ilmiah pun kadang-kadang terjadi. Hal ini pernah saya alami. Punya ide tulisan tapi kepikiran takut salah tulis. Harus riset lagi tapi males. Ujung-ujungnya gak jadi nulis. Yah kalau begini kendalanya udah kombinasi antara kurang ilmu dengan males cari ilmu.
Nah, yang kedua ini baru saya sadari setelah saya beberapa kali menulis artikel bertema motivasi. Beberapa waktu setelah itu saya baru kepikiran apakah yang saya tulis itu benar-benar saya lakukan. Atau saya cuma menulis buat gagah-gagahan seakan-akan saya sudah melakukan itu. Naudzubillahi min dzalik...
Hmmm... Menulis itu memang tidak mudah.
NB : Artikel lain mengenai hal ini, lihat artikel karya Rasyid Sayyari di sini
Nah, yang kedua ini baru saya sadari setelah saya beberapa kali menulis artikel bertema motivasi. Beberapa waktu setelah itu saya baru kepikiran apakah yang saya tulis itu benar-benar saya lakukan. Atau saya cuma menulis buat gagah-gagahan seakan-akan saya sudah melakukan itu. Naudzubillahi min dzalik...
Hmmm... Menulis itu memang tidak mudah.
NB : Artikel lain mengenai hal ini, lihat artikel karya Rasyid Sayyari di sini
Langganan:
Postingan (Atom)

